Sejarah Pembangunan Masjid

Latar belakang
Pada mulanya para pegawai di Lingkungan Komplek LIPI Bandung, melaksanakan kewajiban sholat Fardhu khususnya Dhuhur dan Ashar dilakukan di Lingkungan Satuan Kerja Masing, baik itu di kamar kerja maupun mushola kecil di sudut ruang yang sempit, sedangkan untuk melaksanakan sholat Jum’at para pegawai bertebaran ke masjid yang ada kampung sekitar kantor bahkan ada yang pulang ke rumah masing-masing sekalian untuk makan siang. Melihat kenyataan ini para pemuka agama Islam di Komplek LIPI Bandung merasa prihatin, maka melalui musyawarah dengan para pimpinan Satker diputuskan untuk ibadah sholat Jum’at dilaksanakan di Koridor Lantai I Gedung Lembaga Intrumentasi (LIN – LIPI) sekarang dipakai Balai Informasi Teknologi (BIT –LIPI), namun penggunaan koridor ini tidak berjalan mulus seperti yang diharap bahkan pernah   dibubarkan tidak boleh dipakai sholat Jum’at karena saat itu akan dipakai rapat penting dengan pejabat struktural dari Jakarta.

Setelah pembangunan Aula Gedung pertemuan selesai (sekarang Gedung 10), maka pelaksanaan sholat fardhu dan sholat Jumat dialihkan ke Gedung  tersebut, walau belum refresentatif seperti masjid namun cukup memadai untuk melakukan ibadah sholat secara berjamaah. Namun demikian kondisi ini tentu saja belum memuaskan para pemuka  agama Islam dalam melakukan sholat berjamaah, karena secara syariat sholat  berjamaah belum afdhol bila belum dilaksanakan di masjid. Para pemuka agama Islam  kembali melakukan musyawarah, maka disepakati dan diputuskan untuk merintis  pembangunan masjid di Lingkungan Komplek LIPI Bandung yang selanjutnya pada tahun 1996 dibentuk Panitia Pembangunan Masjid terpilih sebagai  Ketua Prof. Dr. H. Soemanto Imam Khasani.

Masalah yang dihadapi dalam pembangunan masjid
Masalah pertama dalam merintis pembangunan masjid ini adalah masalah tanah dimana masjid ini akan didirikan, karena ternyata para pimpinan saat itu tidak serta merta memberikan tanah di komplek LIPI Bandung untuk dipakai bangunan masjid, bahkan disarankan untuk mengambil alih lahan yang dipergunakan Kantor Kecamatan Coblong dan Polsek Coblong, karena tanah tersebut adalah Hak milik LIPI Bandung. Namun dengan pertimbangan untuk  kepentingan pelayanan umum bagi masyarakat disekitarnya maka pengambil alihan lahan tersebut batal dilakukan, sebagai gantinya Ketua LIPI saat itu, yaitu Prof. Dr. H. Soefjan Tsauri, M.Sc, APU merekomendasikan tanah siring sebelah sisi Barat di dalam Komplek LIPI Bandung sebagai lokasi pembangunan masjid.

Masalah Kedua yang dihadapi oleh Panitia Pembangunan Masjid adalah masalah pembiayaan dana pembangunan masjid, dimana untuk sarana dan pra sarana Ibadah sangat tidak mungkin untuk dibiayai dari APBN, karena tidak ada mata anggaran untuk pembiayaannya. Untuk tahap perencanaan   panitia pembangunan berusaha keras untuk   menggali sumber dana  dari berbagai kalangan, termasuk menyebarkan banyak proposal ke berbagai pihak yang diharapkan bisa membantu dana pembangunan masjid ini.

Ternyata  antara harapan dengan kenyataan kadang suka berbanding terbalik hampir satu tahun lebih proposal yang disebar tidak ada yang merespon, panitia pembangunan tidak pernah surut   semangatnya dan terus melakukan  ikhtiar doa  salah satunya adalah setiap hari Rabu di Gedung 10 melaksanakan Istighosah doa bersama jamaah dan memohon kepada Allah SWT agar mempunyai  masjid yang refresentatif agar bisa sholat berjamaah dan  sholat Jum’at. Alhamdulillah Allah SWT mengabulkan permohonan kami semua, dimana proposal tadinya sudah tidak diharapkan  akan berhasil ternyata secara antusias banyak yang membantu,    sehingga dana  yang terkumpul bisa dipergunakan untuk merancang bentuk dan kontruksi masjid yang akan di bangun, untuk mewujudkannya Panitia pembangunan menunjuk perancang/arsitek terkemuka dari ITB, yaitu Prof. Dr. Ir.  Ahmad Noe’man dimana salah satu rancangan masjid karya beliau adalah Masjid Salman ITB, dan salah satu ciri khas yang menonjol  masjid hasil rancangannya adalah masjid tanpa Kubah dan itu keluar dari mainstream bentuk masjid pada umumnya yang selalu berkubah.

Dimulai dan diresmikannya pembangunan masjid
Dengan bermodalkan tekad dan keyakinan yang tinggi kepada Allah SWT, maka pada tanggal 23 Agustus 1998 peletakan batu pertama pembangunan Masjid dilakukan oleh Ketua LIPI saat itu, yaitu Prof. Dr. H. Soefjan Tsauri, M.Sc, APU dan panitia pembangunan setelah itu melakukan upaya dan kerja keras dan tidak pernah kenal lelah untuk menggalang dana solidaritas umat islam dari berbagai kalangan. Salah satu upaya panitia adalah menggalang dana swadaya  pegawai pada satuan kerja di Komplek LIPI Bandung, berupa infaq/shadaqoh yang dipotong dari gaji para pegawai untuk menjadi donator tetap  sampai masjid selesai dibangun bahkan ada yang sampai pensiun.

Setelah melewati berbagai tantangan dan hambatan dalam masa persiapan  selama dua tahun serta rentang waktu pembangunan selama empat tahun lebih, maka masjid yang dibangun pada lahan seluas 625 m2 yang berdiri kokoh dengan luas bangunan  750 m2, diresmikan penggunaannya pada tanggal 23 Agustus 2002 bertepatan dengan 14 Jumadil Tsaniyah oleh Ketua LIPI saat itu, yaitu Prof. Dr. H. Taufik Abdullah, APU dan masjid ini  dapat menampung kurang lebih sekitar 750  orang jamaah. Sebagai catatan pembangunan masjid ini belum seratus persen selesai, karena masih ada yang tertunda pembangunan yaitu pembangunan menara masjid.

Nama Masjid
Setelah masjid diresmikan penggunaannya, maka panitia pembangunan akan memilih pengurus masjid yang akan mengelola kegiatan secara rutin dan berkesinambungan, namun masih ada yang mengganjal yaitu, nama masjid itu sendiri belum bisa disepakati,  oleh karena itu panitia pembangunan meminta masukan dari para jamaah tentang nama masjid. Ada seratus lebih nama-nama masjid yang diusulkan para Jemaah, dimana nama-nama masjid yang diusulkan pada umumnya diambil dari Asmaul husna, Al Quran dan bahasa arab   dengan makna yang sangat baik. Pada akhirnya setelah melalui musyawarah yang panjang, maka panitia pembangunan masjid memutuskan nama, yaitu MASJID LIPI BANDUNG, nama ini adalah hasil kesepakatan yang tidak perlu lagi dipertentangkan. Setelah nama disepakati maka dibentuklah kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid LIPI Bandung dengan Ketua terpilih adalah Prof. Dr. H. Soemanto Imam Khasani berikut jajaran kepengurusan lainnya.

Sikap dan pandangan terhadap perbedaan Mazhabiah
Pada awal pembentukan pengurus DKM LIPI Bandung, terjadi silang pendapat tentang tata cara dan pedoman beribadah yang akan dilaksanakan di masjid ini, masing-masing pihak memiliki sikap dan cara pandang yang berbeda-beda berdasarkan keyakinan pada mazhabiah yang dianutnya, terutama berkaitan erat dengan ushul fiqih.
Setelah mendengar  berbagai pandangan dan  pendapat tentang metode pelaksanaan ibadah yang akan dilakukan di masjid ini, maka diputuskan bahwa masjid LIPI yang terletak di Komplek perkantoran LIPI Bandung, lebih mengutamakan kepada ukhuwah Islamiyah daripada memperuncing masalah khilafiyah. Jadi masjid LIPI Bandung tidak ber-taklid atau berafiliasi pada mazhab tertentu dan susunan penguruspun tidak didominasi oleh mazhab tertentu.

Dalam pelaksanaannya DKM LIPI Bandung lebih terbuka dan dinamis dalam mengundang narasumber yang akan mengisi Tausyiah harian dan Iman/Khotib Juma’at, berbagai narasumber dari ormas keislaman baik itu dari Nahdatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Muhamadiyah, Al Irsyad, MUI, Jamaah Tablig mubaligin dan unsur  dari Ahllusunnah wal jamaah lainnya.
Masjid ini sama sebangun dengan peran dan Institusi LIPI, sebagai wadah ilmu pengetahuan yang lebih mengedepankan pendekatan inter dan multi disiplin ilmu dalam berbagai bidang kajian keislaman.

Comments are closed